Menangis embun pagi yang tak lagi bersihJubahnya yang putih tak berseri ternodaDaun daun mulai segan menerimaApa daya tetes embun terus berjatuhanMengalir sungai sungai plastik jantung kotaMenjadi hiasan yang harusnya tak adaUdara penuh dengan serbuk tembagaTopeng...
Kepiting kecil di atas kasurTerombang ambing mengikuti ombakKapal laut di trotoar jalanKesepian menunggu penumpangAda orang nyangkut diatap rumahMotor dan mobilnya nyangsang di pohonDoa sedih lagu sedih puisi sedihMenghiasi televisi koran dan hari hari kamiWarnanya...
Relakan yang terjadi takkan kembaliIa sudah miliknya bukan milik kita lagiTak perlu menangis tak perlu bersedihTak perlu tak perlu sedu sedanmuHadapi sajaPasrah pada IlahiHanya itu yang kita bisaAmbil hikmatnya ambil indahnyaCobalah menari cobalah...
Dia adalah sahabatku bahkan lebihDia adalah yang diburu…datang padakuSekedar lepas lelah dan sembunyiUntuk berlari lagiDia adalah yang terbuang…mengetuk pintukuPenuh luka dipunggungnya…merah hitamDia menjadi terbuang….setelah...
Dia cantiknya guru muda kelaskuZirah namamu asli cangkokan JawaBusana biasa sajaRamping kau punya pinggangTahi lalatmu genit nangkring di jidatGoda batinku kilikitik imankuPantatmu aduhaiBagai salak raksasaMerah bibirmu bukan polesan pabrikMulus kulitmu tak perlu lagi...